Contoh Esai Sastra dan Tips Menulisnya untuk Pelajar dan Mahasiswa

Iklan 728x90

Contoh Esai Sastra dan Tips Menulisnya untuk Pelajar dan Mahasiswa

Esai sastra adalah salah satu bentuk tugas menulis bagi pelajar dan mahasiswa baik di sekolah maupun universitas. Untuk menulis esai sastra yang baik dan benar, kamu memerlukan kemampuan dalam soal membaca, memahami, dan menganalisis.

Ketika kamu sudah mengetahui cara menulis esai sastra, maka kamu dapat mengeskpresikan pemikiran dan membuat analisis terhadap aspek-aspek yang akan dibahas. Untuk itu, penguasaan keterampilan menulis adalah faktor penting dalam membuat esai sastra. Jika kamu ingin mengetahuinya, yuk simak tips dari Zhinkadiary.com mengenai tahapan dalam membuat analisis sastra.

Contoh esai sastra

Pengertian esai sastra

Esai sastra adalah salah satu jenis esai yang mencakup analisis argumentatif mengenai suatu karya ssatra. Dalam esai, penulis membuat analisis mengenai novel, cerpen, puisi, atau naskah drama. Dalam membuat esai sastra terdapat unsur ide, alur, karakter, nada, gaya penulisan, dan perangkat analisis yang dipakai penulis untuk menuangkan pemikirannya.

Seorang penulis esai sastra setidaknya dapat menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan seperti, "Adakah relevansi novel dengan keadaan masyarakat setempat", "Mengapa novel ini ditulis pada zaman Orde Baru,", "Mengapa penulis mengangkat isu gender dalam kisahnya," dan lain-lain.

Bagaimana menulis esai sastra?

Sebagaimana tugas menulis lainnya, jenis tugas ini memerlukan beberapa persiapan yang cermat dan teliti. Kamu diminta untuk membuat rencana yang matang agar proses penulisannya lebih mudah dan menyenangkan. Untuk mengetahui persiapannya apa saja, kamu dapat mengikuti lima langkah berikut ini.

1. Fokus pada topik

Sebelum membuat esai, kamu harus membaca secara menyeluruh karya sastra yang akan dianalisis. Pastikanlah kamu benar-benar memahami ide penulis, penokohan, dan alur ceritanya. Jika perlu bacalah sebanyak dua kali. Untuk membuat analisis sastra yang baik, kamu harus memiliki pemahaman mengenai sudut pandang penulis dan gagasannya. Ketika membaca karya tersebut, cobalah menjawab pertanyaan ini:

  • Halaman mana dari teks yang paling penting dari keseluruhan karya tersebut?
  • Mengapa penulis menggunakan "perangkat sastra" ini dalam karyanya?
  • Apakah terdapat perkembangan karakter dalam cerita?

Cobalah untuk menemukan antara ide dan alur, perilaku tokoh, dan perubahan peran mereka dalam teks.

2. Mengumpulkan bukti/fakta

Kumpulkanlah fakta, ungkapan, dan bukti lain untuk membuat kesimpulan yang masuk akal dalam analisis sastra. Kamu harus memiliki bahan yang cukup untuk meyakinkan ketika membuat kesimpulan. Buatlah catatan saat membaca. Kamu juga perlu mempelajari beberapa informasi mengenai penulis, karena hal ini akan membantu kamu dalam memahami pemikiran penulis secara lebih baik.

3. Membuat outline

Membuat outline dalam analisis merupakan bagian penting dalam proses penulisan. Kamu harus memahami apa yang akan kamu tulis hingga sampai pada kesimpulan. Pastikan bahwa kamu menuangkan ruang untuk semua ide penting dari penulis secara lengkap.

4. Mengembangkan tesis utama

Kamu wajib merumuskan tesis dan menjelaskan mengapa argumen kamu sangat penting. Termasuk bagaimana tesis tersebut terhubung dengan ide dan pemikiran penulis novel tersebut.

5. Proses penulisan dan revisi

Dalam tahap ini, kamu sudah bisa membuat analisis esai sastra. Ingatlah bahwa kamu harus mengeluarkan pernyataan menggunakan paragraf yang terpisah. Setelah menyelesaikan tulisan esai, istirahatlah terlebih dahulu sebelum membuat revisi. Jeda waktu istirahat ini akan memberikan sudut pandang baru terhadap esai yang sudah kamu tulis sebelumnya.

Contoh esai sastra

Berikut di bawah ini adalah contoh esai sastra yang sederhana yang mengkaji dua karya sastra, yakni novel Gadis Pantai dan satu cerita pendek Jack dan Bidadari dari kumpulan cerita "Seekor Anjing Mati di Bala Murghab". Esai tersebut memfokuskan pada unsur intrinsik, seperti penokohan, alur cerita, dan latar. Silakan scroll ke bawah untuk membaca esai selengkapnya.

esai sastra
Sumber gambar: Pixabay/Rawpixel

Unsur Intrinsik dalam Dua Karya Sastra: “Gadis Pantai” dan “Jack dan Bidadari”

Dalam esai ini, saya akan membedah dua karya sastra yang ditulis oleh dua sastrawan, yakni satu novel berjudul “Gadis Pantai” karya Pramoedya Ananta Toer dan satu cerpen yang berjudul “Jack dan Bidadari” dari kumpulan cerpen Linda Christanty “Seekor Anjing Mati di Bala Murghab”. Secara garis besar, kedua cerita ini memiliki tema dan cara penulisan yang sangat berbeda. Jika karya Pramoedya Ananta Toer menuliskan tema mengenai isu stratifikasi sosial, yaitu tentang feodalisme pada masa penjajahan kolonialisme Belanda di Jawa abad ke-20, maka Linda Christanty cenderung menyelipkan isu-isu yang berakar pada masalah sosial-psikologis.

Pada novel Gadis Pantai, alurnya terstruktur dengan jelas, tetapi alur pada cerita-cerita Linda Christanty terasa lebih rumit karena melibatkan segi psikologi tokoh-tokohnya secara lebih sublim. Dalam Gadis Pantai, cerita berfokus pada pengembangan perumusan masalah diikuti dengan klimaks yang terdapat di bagian akhir, sehingga yang disampaikan penulis telah tampak pada bagian awal novel. Lain halnya dengan cerita-cerita dalam cerpen-cerpen Linda: perumusan masalah dibangung oleh curahan perasaan para tokoh dengan alur yang sangat cepat dan memiliki akhir cerita yang mengejutkan pembaca.

Seperti yang sudah disebutkan bahwa kedua karya ini ditulis pada masa yang berbeda: Gadis Pantai ditulis pada kisaran tahun 1960-an yang pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung dalam Bintang Timur (1962-1965), sedangkan Seekor Anjing Mati di Bala Murghab ditulis pada era Reformasi. Oleh karena itu, nilai kebudayaan yang diangkat juga sangat berbeda. Jika Pramoedya mengangkat masalah kehidupan lokal masyarakat Jawa pada era feodalisme, maka cerita Linda berangkat pada masa yang lebih modern dan sebagian kisah diangkat dari negeri seberang.

Meskipun dua cerita tersebut sangat berbeda dari segi waktu penulisan, tetap ada satu persamaan dari Gadis Pantai dan Seekor Anjing, yakni membongkar peran internal wanita dan pria dalam suatu kehidupan masyarakat berdasarkan latar waktu, tempat, dan budaya. Itu sebabnya, tulisan ini akan menganalisis dua karya tersebut untuk menjawab pertanyaan “Sejauh manakah karakter pria dan wanita dalam kedua karya sastra yang Anda pelajari secara akurat mencerminkan peran pria dan wanita dalam suatu masyarakat?

Pertanyaan ini akan dijawab dengan membahas tigas aspek: latar, tokoh, dan alur cerita.

Latar

Aspek pertama yang akan dibahas adalah latar. Gadis Pantai bertempat di Jawa saat masih menganut sistem feodalisme sekaligus patriarki yang sangat kental. Feodalisme merupakan suatu hierarki sosial yang membagi masyarakat menjadi beberapa kasta. Seorang wanita yang berada pada kasta terbawah akan langsung diangkat derajatnya jika menikah dengan seorang pria terhormat atau priyayi. Meski begitu, wanita tersebut tidak akan bisa menyamai derajatnya dengan suaminya dan segala urusan rumah tangga harus dipatuhi dengan formal. Pasalnya, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi secara ketat yang dibuat oleh sang suami.

Sedangkan latar tempat dalam Jack dan Bidadari adalah salah satu negara di Eropa. Hal ini dibuktikan pada awal cerita yang mengintroduksikan empat musim yang ada di negara tersebut dan film yang tayang pada akhir cerita. Dalam cerita tersebut, kehidupan yang dijalani para manusianya sangat bebas, tidak ada sistem hierarki yang menghambat kehidupan sosial masyarakatnya. Adanya klub malam dan percintaan sesama jenis menjelaskan makna “kebebasan” tersebut. Sebagaimana diceritakan bahwa suami-istri dapat bercerai jika sudah tak cocok. Bukan karena suaminya yang memaksakan kehendaknya sebagaimana terjadi dalam Gadis Pantai.

Penokohan

Aspek kedua adalah penokohan. Gadis Pantai memiliki banyak tokoh yang pada setiap bagian memiliki peran yang membangun perumusan masalah tersendiri. Tiap-tiap tokoh tidak disebutkan namanya secara spesifik, melainkan hanya nama panggilan yang juga menjelaskan kedudukannya di dalam masyarakat. Misalnya, tokoh utama, yakni Gadis Pantai, yang tidak dijabarkan siapa nama aslinya. Pembaca mengenalnya sebagai seorang bunga desa yang terpaksa menikah dengan orang yang tak dikenalnya dan hidup di kota yang memiliki khazanah yang sangat berbeda dengan lingkungan kampung nelayan. Pembaca mencerna siapa dan bagaimana Gadis Pantai ini melalui perjalanan biografisnya. Apalagi setelah ia menikah, maka sebutan pada dirinya berubah menjadi “Mas Nganten”. Panggilan ini hanyalah panggilan status sosial belaka. Sementara tokoh antagonisnya adalah Bendoro yang juga tak kita ketahui siapa nama aslinya. Kita hanya mengetahui sepak terjangnya melalui pengisahan narator dan dialog-dialognya yang dingin dan keras.

Pada cerita Jack dan Bidadari, tokoh-tokoh tidak juga tidak terlalu dijelaskan secara utuh, melainkan hanya menyebut relasi masing-masing tokoh pada tokoh utamanya, Jack. Bidadari adalah pacar Jack yang bekerja di klub malam. Dia adalah seorang laki-laki, tetapi ia merasa seorang perempuan seutuhnya. Dalam kisah ini ditunjukkan bahwa pria sudah bebas memilih pasangan tanpa ada aturan sosial yang harus diikuti sebagaimana masih berakar kuat pada sistem yang tradisional. Dijelaskan juga bahwa masyarakat sekitar sangat ramah dan terbuka pada hal-hal yang mungkin dianggap melawan hukum alam. Sue adalah mantan istri Jack dan mereka memiliki anak bernama Anna. Tom adalah sahabat Jack yang sudah meninggal, ia memiliki mantan istri dan anak, Ricky, yang juga akrab dengan Jack. Namun tidak dijelaskan kepentingan tokoh-tokoh tersebut dalam cerita. Pada akhir cerita, penulis juga menambahkan karakter lainnya, Ratih, tetapi kehadirannya menggantung begitu saja.

Alur cerita

Aspek terakhir yang dikaji adalah alur cerita. Gadis Pantai mempunyai alur yang tersusun maju ke depan. Cerita ini mengisahkan seorang gadis belia yang menikah dengan seorang priyayi. Pernikahan yang diwakili sebilah keris ini membawa dampak signifikan pada kehidupan Gadis Pantai. Sebagai gadis belia, ia dewasa sebelum waktunya. Ia merasakan perjalanan rumah tangganya sebagai istri seorang priyayi. Meski jadi istri seorang terhormat tetapi tidak membuatnya sejajar dengan suaminya. Pasalnya, ia hanya sebagai “penghibur”, bukan istri yang sesungguhnya. Ia bukanlah istri yang pertama, melainkan yang keempat: ketiga istrinya juga nasibnya serupa, yakni diceraikan setelah melahirkan anak.

Klimaks dari cerita ini adalah saat Bendoro menceraikan Gadis Pantai ketika mengetahui anaknya bukan lelaki. Keputusan ini pun diambil tanpa setahu istrinya, bahkan ia tak bicara langsung, melainkan melalui mertuanya. Ketika anaknya lahir ke dunia, Bendoro pun tidak ingin melihat wajah dari anaknya atau sekadar mengecek apakah ia sehat dan lahir dengan selamat. Akhirnya, Gadis Pantai dipaksa meninggalkan anaknya yang baru saja dilahirkan. Rentetan kejadian ini merupakan bukti yang sangat kuat tentang stratifikasi sosial dan perbedaan gender. Perempuan tidak bisa menjadi sederajat dengan pria walaupun ia menjadi seorang istri. Segala hal dilakukan atas kehendak pria, si priyayi, Bendoro, tanpa melibatkan istrinya sama sekali.

Cerita Jack dan Bidadari jauh lebih singkat dibanding Gadis Pantai. Yang harus diperhatikan di cerita ini adalah bagaimana proses perceraian terjadi dengan keterlibatan dua belah pihak: suami dan istri. Mengenai pengasuhan anak juga harus melalui jalur pengadilan, sehingga segala sesuatunya tidak hanya berasal dari “kehendak” sang suami. Cerita ini mencoba mempersamakan kesetaraan gender. Apalagi setiap individu dalam cerpen ini bebas memilih dan berpendapat. Bahkan Jack tertarik dengan seorang pria. Mereka pun menjalin hubungan tersebut selama dua tahun tanpa ada orang lain yang menganggapnya aneh. Jack pun pasrah terhadap kelakuan Bidadari dan selalu menerimanya kembali meskipun kadang pertengkaran dilakukan secara fisik. Hal ini juga menunjukkan bahwa latar budaya cerita ini menggambarkan suatu kesejajaran sosial setiap manusia. Tidak ada yang lebih dominan atau salah satu pihak kalah, tetapi kedua belah pihak bebas untuk menyatakan pendapat sesuai dengan isi hati.

Kesimpulan

Kedua karya sastra tersebut mencerminkan peran wanita dan pria secara akurat pada suatu masa tertentu berdasarkan perbedaan latar tempat dan budaya. Kenyataan pada peran pria dan wanita dicerminkan pada masa di mana cerita tersebut berlaku. Misalnya, perbedaan gender pada cerita Gadis Pantai hanya dapat terjadi pada masyarakat Jawa yang masih terpenjara oleh sistem hierarki dan partriarki. Sedangkan dalam Jack dan Bidadari yang berlatar belakang negara liberal di Eropa memiliki masyarakat yang cenderung individual dan lebih bertanggung jawab pada pilihannya sendiri. Orang lain tak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga atau kehidupan pribadi seseorang. Semua orang sama di hadapan hukum dan setiap orang pula bebas menyatakan gagasan.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

Iklan Tengah Post