Tiga Cara Simpel Mengubah Mental Kita Jadi Lebih Baik

Iklan 728x90

Tiga Cara Simpel Mengubah Mental Kita Jadi Lebih Baik

Mental dan suratan nasib memang dua hal yang berbeda. Namun keduanya memiliki kaitan yang sangat erat.

Suratan nasib memang kadang kita jadikan kambing hitam atas sesuatu yang terjadi pada diri kita.

Yup, setiap orang punya suratan takdir masing-masing. Tapi jika kamu terus meyakini hal itu tanpa membenamkan dalam pikiran bahwa kamulah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pencapaian hidup, maka kamu selamanya terjebak pada “suratan nasib” itu.

Karena itu, percaya pada diri sendiri menjadi modal penting untuk tetap survive di hidup ini.

Tiga Cara Simpel Mengubah Mental Kita Jadi Lebih Baik

Memberi kepercayaan kepada diri kamu berarti kamu percaya bahwa hari depan bisa lebih baik daripada hari ini. Dengan kata lain, diri kamu sendiri adalah kekuatan untuk mengubah nasib kamu.

Akan tetapi, percaya terhadap diri sendiri itu saja tidak cukup. Nyatanya, ada beberapa hal mendasar yang seharusnya sudah kamu aplikasikan dan menjadi bagian dari kepribadian kamu.

Apa sajakah hal-hal itu? Nah, simak saja tips dari kami berikut ini.


1. Memperbaiki penampilan diri


Cara ini bisa dibilang sangat mudah dan bisa kamu terapkan dalam keseharian kami. Misalnya, dulu kamu berpakaian sesuka kamu, sekarang kamu berpakaian dengan lebih sopan dan menghargai diri sendiri.

Contoh kasusnya: saya ingin segera mempunyai pacar, tetapi kok sering ditolak perempuan. Setelah kejadian ditolak berkali-kali, saya mencoba memperbaiki diri.

Hal yang pertama saya lakukan adalah membenahi kondisi fisik saya, seperti mencukur rambut lebih rapi, memperbaiki cara berpakaian agar lebih terlihat menarik, dan berlatih berbicara dengan topik-topik yang sekiranya bisa nyambung dengan lawan bicara.

Alhasil, dengan menggunakan teknik ini, saya memiliki banyak teman. Saya sudah berubah dari diri saya yang sebelumnya. Teman-teman juga lebih menghargai saya dan mereka terlihat antusias jika ngobrol dengan saya.

Meskipun saya belum memiliki pacar, setidaknya telah terjadi perubahan yang positif dalam diri saya.

2. Mencari lingkungan internal yang kondusif


Sering kita tak menyadari bahwa lingkungan internal memberi pengaruh yang kurang baik bagi diri kita.

Lingkungan internal itu merupakan lingkungan yang paling dekat dengan keseharian kamu. Misalnya, teman kerja, teman arisan, teman di grup-grup media sosial, teman kongko, dan lain-lain.

Lingkungan internal yang kurang baik itu menyebarkan aura negatif. Contoh kasusnya: grup Whatsapp dari teman kerja saya setiap hari hanya membicarakan hal-hal yang tidak patut, seperti membicarakan keburukan orang lain, nyinyir, dan mengucapkan sumpah-serapah jika ada kebijakan kantor yang tak disukainya. Terkadang saya juga ikut nimbrung dengan obrolan-obrolan negatif itu. Secara tak langsung, pikiran saya jadi ikut negatif dalam memandang sesuatu.

Semakin lama, saya berpikir lebih baik saya keluar dari grup WA tersebut. Setelah keluar, saya merasakan lebih bebas dan lega. Aura negatif yang setiap hari terpancar dari grup WA itu tidak saya rasakan lagi. Dengan kata lain, kamu harus berani keluar dari lingkungan yang tidak kondusif untuk memicu perubahan positif bagi diri kamu.

3. Mengubah cara bermasyarakat, dimulai dari diri kita


Poin ketiga ini mencakup hal yang lebih luas dari poin kedua sebelumnya. Sebenarnya, jika mau menilik lebih dalam, bahwa diri kita ini dibentuk dari lingkungan kebudayaan setempat.

Apa yang menurut kamu dan orang lain anggap sopan atau tidak sopan, maka itu menjadi suatu nilai kebudayaan yang digunakan masyarakat.

Setiap lingkungan kebudayaan yang satu dengan yang lain tentu berbeda. Semua lingkungan kebudayaan menciptakan nilai-nilai berdasarkan “kesepakatan” warga setempat.

Contohnya: sadarkah kamu, jika kebiasaan ngobrol sambil bermain gadget itu sebenarnya tidak sopan? Jika kamu generasi milenial yang lahir di era 80-an tentu pernah merasakan masa ketika gadget belum populer dan cara mengobrol yang sopan adalah dengan menatap lawan bicara. Namun kini jadi terbalik. Untuk itu, kadang kita harus kritis terhadap “nilai-nilai budaya buruk” yang tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi.

Pada titik ini, cara kita bermasyarakat harus dimulai dari diri kita sendiri. Karena manusia dibekali akal dan budi, maka sudah sepatutnya kita gunakan sebaik mungkin.

Jangan sampai perilaku seperti ngobrol sambil asyik bermain gadget menjadi suatu kelaziman karena mengikuti orang lain.

Di sini juga, kita dituntut untuk bisa memilih dan memilah apa yang baik dan tidak baik.

Tiga cara simpel ini jika benar-benar kamu terapkan, maka akan memberikan respons positif bagi diri kamu.

Jika sebelumnya nasib kamu kurang baik karena masih mempertahankan hal-hal negatif seperti contoh yang kami sebut di atas, maka percayalah nasib yang lebih baik akan kamu rasakan di hari depan dengan mengubah mental kamu jadi lebih positif.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

Iklan Tengah Post